Oleh Yusuf Supriadi
Tegaknya the superstate Khilafah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan yang tinggal menghitung waktu. Gegap gempita sambutan dunia bagi terwujudnya sistem ini terasa sangat meriah. Umat tampak begitu rindu menanti sentuhan bijaksana para khalifah yang telah Allah janjikan.
Sambutan itu terasa semakin lengkap dengan dukungan kaum intelektual, profesional dan para jenderal. Berbondong-bondong mereka menyatakan harapan dan keyakinannya akan tegaknya sistem Khilafah. Bahkan dukungan ini tidak hanya disuarakan oleh kalangan muslim saja. K.H. Dr. Mahmud Yunus, mengungkapkan bahwa ada seorang profesor bernama Murod Hoffman, seorang Katolik tulen dari Jerman, yang mengatakan bahwa situasi dunia yang makin tidak menentu ini solusinya hanya dengan melaksanakan Islam; dengan tegaknya syariah dan Khilafah Islam. Tanpa itu jangan harap ada perdamaian, kesejah-teraan, keamanan, dan ketentraman.
Oleh karena itu, sudah saatnya bagi seluruh maha-siswa muslim untuk menyua-rakan dukungannya dan ikut dalam barisan perjuangan penegakkan kembali khilafah ini. Tidak perlu lagi sungkan dan malu, apalagi apriori dan gelagapan tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai insan intelektual dengan segudang potensi yang dimiliki tentu tidak sulit bagi mahasiswa dan insan intelektual lainnya untuk memahami ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah yang mewajibkan dan mem-berikan janji yang pasti akan tegaknya kembali sistem Khilafah.
Mahasiswa juga dapat melihat dengan jelas keru-sakan yang ditimbulkan oleh penerapan sistem sosialis dan sistem kapitalis. Kedua sistem tersebut terbukti gagal meng-angkat manusia kederajat mulia dan tinggi yang se-mestinya. Kerusakan sistem kapitalis dan yang diakibatkan oleh penerapannya telah mengakibatkan penderitaan manusia dan kemiskinan yang luar biasa menyedihkan. Mengemis dan meminta-minta telah menjadi aktivitas primadona sebagian mas-yarakat kapitalis untuk memenuhi kebutuhan dan asasinya, makan dan hidup. Derajat sosial manusia bahkan lebih rendah dari hewan-hewan peliharaan para kapitalis itu.
Tidak ada lagi alternatif bagi orang-orang berilmu pengetahuan dan berakal yang menginginkan kese-jahteraan dan keselamatan bagi seluruh manusia dan alam selain menerapkan aturan dan sistem yang teruji kekomprehesipan dan keberhasilannya. Aturan itu adalah Syariat Islam dan sistem itu adalah Khilafah Rasyidah Islamiyah. Hanya Islam dan Khilafah yang sukses dengan gilang gemi-lang dan tanpa tanding tanpa banding memimpin manusia selam lebih dari 13 abad dan menempatkannya dalam kedudukan yang mulia. Hanya Islam yang sanggup mela-hirkan masyarakat yang di dalamnya tidak satupun manusia yang mau menerima zakat karena kemakmuran dan kesejahteraan telah meliputi mereka.
Kegagalan sitem selain Islam (Kapitalis dan Sosialis) serta kecermelangan suk-sesnya sistem Islam telah membungkam mulut-mulut orang untuk berargumen menolak penerapan sistem Islam. Hanya iblis dan kom-pradornya serta orang-orang bodoh yang akan terus melakukan penolakan ter-sebut. Oleh karena itu, tidak ada lagi pilihan bagi mahasiswa dan kalangan intelektual lainnya selain menjadi pemimpin terdepan perjuangan ini. Perjuangan untuk memberikan pence-rahan kepada seluruh alam dan manusia dan menuntun mereka meraih impian dan kebahagiannya. Wallahu a’lam bi ash-showab.
Yusuf Supriadi
Ketua Umum LDK Badan Kerohanian Islam Mahasiswa
(BKIM) IPB
6 Comments
dear teman2
sebelumnya gw minta maaf klu kalian tersinggung. Perlu kita sadar bahwa dasar dan ideologi negara kita adalah Pancasila, yang artinya negara kita bukanlah negara agama tetapi negara kita adalah negara beragama. artinya negara kita bukan negara islam, melainkan negara yang terdiri dari enam agama; islam, katolik, protestan, hindu, budha dan konghucu. apa yang saudara katakan bahwa “penerapan syariat Islam sebagai solusi alternatif terhadap berbagai permasalahan bangsa”. menurut saya, rencana tersebut bukan merupakan solusi terbaik, malah sebaliknya hanya akan membuat masalah baru. karena akan terjadi pro-kontra. Lebih baik kita membahas dan mencari solusi bagaimana cara memilih pemimpin yang nasionalis, bebas dari korupsi, pemimpin yang punya rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap tanah air, peduli dan prihatin terhadap nasib bangsa kita sekarang ini. Karena pada dasarnya bukan aturan atau hukum yang salah, melainkan oknum/pejabat kita yang hanya memikirkan berapa dolar/rupiah hasil korupsi saya selama ini, dan berapa target tahun depan. Jadi menurut saya tidak menjamin dengan menerapkan syariat islam untuk membangun negara kita. Kenapa? Coba saudara lihat dan simak, Presiden kita sejak pertama sampai dengan sekarang semuanya beragama Islam. Semua kepala Departemen, Menteri-menteri negara, pejabat-pejabat penegak hukum, anggota DPR/MPR didominasi oleh agama Islam. Dan buktinya negara kita sammpai saat ini malah tambah morat-marit. Jadi sekali lagi saya katakan bukan berlaku atau tidaknya syariat islam untuk membangun negara kita melainkan karena krisis moral oknum tertentu, yang perlu didik lagi dan perlu disadari oleh setiap warga negara.
Wasalam,
Dony
Reply
berdiri tegagnya khalifah di muka bumi memang sudah janji Allah,tetapi tidak datang begitu saja. ini harus di perjuangkan dan di persiapkan,baik melalui pendidikan yang merata secara formal atau non formal,yang semua berdasarkan Taqwa sebagai ukuran ke Ikhlasan serta di kerjakan dengan penuh kesabaran.
Reply
Saya kok nggak setuju dengan paragraf terakhir, memangnya setiap perbedaan harus di sikapi dengan meng-ibliskan orang atau meng-kafirkan pihak berseberangan, dimana sikap intelektual anda?
Reply
maaf ya tapi tolong berikan 1 contoh kemajuan Islam di atas, trus sebutkan negara Islam mana yg sukses nggak korupsi & menjadi kaya sbg negara industri maju selain krn minyak?
Reply
Alhamdulillah, kami saat ini menyediakan bendera ar Rayaa (Bendera daulah Islam Iraq pimpinan Abu Umar al Baghdadiy). Berikut spesifikasi bendera tersebut
berukuran : 75 cm x 100 cm.
warna : hitam
tulisan : kalimat tauhid ?? ??? ??? ????, ???? ???? ????
kain : mengkilap.
harga : Rp. 25.000,-
Barang TERBATAS !
Reply
Assalamu’alaikum teman-teman semua. Salam ukhuwah dan perjuangan.
Tulisan yang dimuat di atas adalah artikel lama yang saya buat sekitar tahun 2007, saya bahkan lupa persisnya kapan. Tulisan itu dimuat di salah-satu media yang diterbitkan mahasiswa Universitas Indonesia. Oleh karena itu saya merasa sedikit surprise bahwa beberapa web memuat ulang tulisan ini. Padahal tulisan ini menurut saya (saat ini) perlu perbaikan di sana-sini.
Berkenaan dengan paragraf terakhir, dari sisi konten sejauh ini sama melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Sekali lagi memperhatikan konsepsi khilafah dan penerapannya selama 14 abad telah membuka mata hati kita akan kecanggihan syariat Islam dan khilafah. Namun, saya juga menyadari, bahwa kata-katanya jauh dari bijak. Tidak untuk mencari pembenaran, tapi saya memang perlu memohon maaf kepada kawan-kawan baik yang memperjuangkan khilafah maupun yang tidak atas ketidaknyamanan tersebut. Hal itu semata-mata karena kekurangmatangan seorang Yusuf Supriadi saat itu.
Untuk Mas Doni dan someone_dari_ITB , saya tidak pernah menyatakan bahwa negara ini adalah negara Islam. Sebagaimana saya juga tidak akan menyebut Brunei Darussalam, Malaysia, Arab Saudi, Iran, Palestina, dan negara-negara berpenduduk muslim lainnya sebagai negara Islam. Toh, negara-negara tersebut juga tidak pernah mengklaim sebagai negara Islam. Indonesia mendekalarasikan diri sebagai negara republik. Brunei dan Arab Saudi sebagai kerajaan. Begitu juga yang lainnya, tidak ada satupun negara-negara berpenduduk muslim yang saat ini mendekalarasikan diri sebagai negara Islam.
Selain itu, sebagai sebuah kata dan sebuah konsep “Negara Islam” atau “Daulah Islam” atau “Khilafah Islamiyah” memiliki makna dan arti tertentu. Merujuk kepada definisi istilah tersebut jelas saat ini tidak ada satupun negara yang berhak mengklaim sebagai Negara Islam, dan faktanya memang tidak ada yang mengkaim seperti itu.
Mengenai contoh keberhasilan Negara Islam yang dulu pernah tegak, saya tidak akan menyampaikan dalam komen ini. Kalau Anda memang bermaksud mencari bukti, Anda hanya perlu bertanya sama Professor Google.
Mengenai inti permasalahan yang kita hadapi, maka saya kemukakan bahwa penyebabnya adalah kelemahan dan cacat sistem. Sejauh ini saya berprasangka baik kepada para founding fathers negara Indonesia, mantan presidennya, dan para pemimpinnya saat ini. Saya yakin bahwa mereka tidak pernah punya keinginan dan niatan buruk terhadap amanah kepemimpinan mereka. Mereka bersedia berkorban untuk negara ini. Tapi, mereka telah gagal memimpin negara ini pada tujuannya.
Saya yakin, bukan karena faktor personal. Pemimpin seperti apapun, sesoleh apapun bahkan ulama sekalipun, mau muslim atau non muslim, laki-laki atau wanita, lulusan SD atau Professor, tidak akan pernah bisa membawa keselamatan bagi rakyat Indonesia selama sistem yang diterapkan adalah republik yang berasaskan demokrasi. Pilihannya adalah apakah kita masih menunggu bukti kegagalan sistem ini ataukah segera menyadari kecacatannya dan menggantinya dengan sistem yang telah terbukti berhasil?
Reply