Oleh Yudha P. Djunaedi
Dalam kisaran waktu yang tak lama lagi, OSPEK atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus akan hadir dan menghiasi hiruk pikuk penyambutan mahasiswa baru. Semuanya mulai mempersiapkan diri. Para senior berbenah menyiapkan konsep OSPEK dengan serius agar terbingkai dalam kemasan yang apik dan menarik.
Para junior sibuk memenuhi tugas-tugas yang bertumpuk, menjaga kesehatan agar tubuh tetap fit mema-hami rangkaian materi pengenalan kampus, dan mempersiapkan mental.
Seorang teman terheran-heran ketika mendengar kata “mental”. Tradisi dari nenek moyang ini memang mengharuskan keberadaan episode uji nyali dan keberanian. Bahkan, di beberapa tempat sudah sampai pada sparing terbuka. Episode ini menjadi kurang menarik karena pertandingan berjalan tak seimbang, sang junior tak boleh melawan. Legalisasi senior-junior adalah poin yang bisa kita ambil dari kejadian ini.
Selain itu, ada manifestasi nilai-nilai senioritas dalam OSPEK. Sekelompok orang yang mengaku sebagai senior mendeklarasikan pameo yang barang-kali tak asing lagi di telinga kita. “Peraturan pertama, senior tak pernah salah. Peraturan kedua, kalaupun salah kembali ke peraturan pertama.” Pameo tersebut menjadi bukti yang cukup komprehensif akan keberadaan nilai senioritas.
Fenomena-fenomena ini meng-gelitik saya untuk mengatakan bahwa OSPEK tak lain seperti drama teatrikal berlatarkan jawa tempo dulu ketika Nusantara masih dalam bentuk kerajaan bercorak feodal.
Dialektisasi Feodalisme Oleh Mahasiswa
Ketika founding fathers memu-tuskan untuk membangun negeri ini menjadi bangsa yang modern, pada hakikatnya mereka sedang menggu-lirkan dialektika baru. Diputuskanlah dialektika baru itu adalah demokrasi sebagai pengganti dialektika lama sistem feodal yang dianggap sudah usang dan tak sanggup menjadi komandan dalam membangun negeri ini menjadi bangsa yang modern.
Akan tetapi, pengaruh budaya feodal yang notabene merupakan warisan leluhur masih sangat kuat melilit bangsa ini. Dialektika yang sebenarnya ingin ditinggalkan, telah mendarah daging sehingga sulit menang-galkannya. Akibatnya, dalam tataran perilaku politik dan ekonomi, kita masih bersikap dan mengacu pada nilai-nilai feodal. Para pemegang kekuasaan, masih menghayati kekua-saan sebagai amunisi ampuh untuk mengakumulasi kenikmatan pribadi, keluarga, dan kawan-kawannya.
Di tengah ketidakberdayaan akan feodalisme, rakyat memimpikan sosok yang dapat membawa mereka keluar dari lembah nestapa itu penyebab kemunduran bangsa. Agen perubahan seperti mahasiswa sebenarnya menjadi pilihan utama. Namun, panggilan ini sepertinya tak digubrisnya sekaligus mementahkan konstelasi keama-nahannya sebagai pengayom bangsa. Fenomena senioritas dalam OSPEK menjadi sebabnya.
Fenomena se-nioritas mem-perlihatkan standar ganda per-gerakan mahasiswa. Masih ter-patri dalam ingatan, perjuangan mahasis-wa yang ketika itu gundah gulana at-as kondisi negerinya, berusaha keras membuka gerbang reformasi dengan maksud memudahkan penghujaman terse-lenggaranya pemerintahan dan kehidupan yang demokratis, yang dianggap sebagai prasyarat pengen-tasan permasalahan negerinya. Namun, di sisi lain, fenomena senioritas menjadi bukti tak terbantahkan terhadap sinyalemen pemupukan tesis feodalisme bak menjungkirbalikan antitesis demokrasi yang justru sering mereka suakan.
Nihil Sense of Reform
Standar ganda memang sepantasnya menohok harga diri mahasiswa yang dianugrahi masyarakat sebagai agen perubahan. Pasalnya, senioritas telah diluar ambang kewajaran. Tradisi balas dendam menjadi motivasi yang kasat mata namun menyeruak telanjang. Senior tak segan lagi mempraktikan aji mumpungpaham kesempatan dalam kesempitan.
Polemik ini memang memiliki dampak yang tidak kasat mata tapi akan terdapat efek gaung yang berakibat pada perubahan mental junior secara fundamental. Dunia kampus yang notabene sebagai tempat pembibitan calon intelektual harapan bangsa malah melahirkan manusia bermental kerdil yang menge-sampingkan hati nurani dalam bertindak.
Pengekangan budaya berani dan kritis mengakibatkan jurang pemisahan antara senior dan junior menganga lebar. Pasalnya, senior kerap memposisikan junior sebagai objek yang bisa diperlakukan seenaknya. Inilah barangkali perilaku senior-junior yang kebablasan. Pada akhirnya, OSPEK hanya menelurkan mahasiswa bermental apatis.
Secara singkat, OSPEK acap kali gagal menyelesaikan misi historisnya, mentransformasi junior dari siswa menjadi mahasiswa. Sebabnya tak lain adalah dilupakannya kepekaan untuk merubah (sense of reform).
Pengayom Bangsa
Bukankah memaksa untuk berubah adalah satu hal yang kurang efektif dan tidak mencirikan sosok intelektual? Bukankah perubahan yang efektif dimulai dari diri sendiri?
Oleh karena itu, senioritas se-pantasnya dipandang dari sisi kemanfaatannya yaitu sebagai penga-yoman junior dalam mengusung misi menciptakan figur-figur teladan yang kritis terhadap permasalahan bangsa. Dengan demikian, mereka akan peka terhadap keadaan bangsa ini karena pengayoman akan mengisi relung kehampaan pada batin terdalam para junior. Pada akhirnya, kiblat mahasiswa akan kembali seperti historisnya, yaitu berada di barisan terdepan dalam mengusung beban membawa bangsa menuju perubahan (reform).
Yudha P. Djunaedi
Mahasiswa FEUI dan peminat humaniora
yudha90@yahoo.co.id
5 Comments
ospek adalah bentuk arogansi mahasiswa senior terhadap juniornya. kalo saya melihat, ospek itu hampir tidak ada manfaatnya. kalo baru jadi senior aja udah merasa punya kuasa dan bisa berbuat seenaknya apalagi nanti kalo udah punya posisi atau jabatan di pemerintahan. apalagi saya melihat ospek di universitas-universitas top di indonesia itu masih banyak yang tidak mendidik dan tidak mencerminkan mahasiswa sebagai intelektual yang bisa diharapkan untuk ikut membangun bangsa. contohnya di ui,itb,ugm masih banyak tuh ospek yang sangat tidak mendidik mahasiswanya. kalo ingin perubahan, kita bisa memulainya dari membenahi hal-hal yang kecil. seperti ospek ini, kalau dibenahi bisa saja menjadi kunci kebangkitan bangsa kita. harusnya ospek itu dibebaskan dari budaya-budaya zaman penjajahan dan diisi dengan semangat kebangkitan dan perubahan.
Reply
ospek bagi gw ntu masih logis n bermanfaat … alasannya ya g juh dri manfaat ospek itu untuk membina karakter mahasiswa baru untuk menyadari ststus baru mereka yaitu mahsiswa, bukan lagi sebagai siswa.. dan soal ospek yang ga mendidik itu sh biasanya keslahan awal dari sistem yang ada di fakultas masing2 yg tidk memberikan filosofi dari ospek iutu sendiri, jika sistemnya sudah bagus dn mahsiswa senior sudah menegtahui filosofi dari ospek yaitu untuk membina maba dan sekaligus melatih mahsiswa senior dalam meningkatkan ketermabpiln sost skil ospek yang ada akan sengat sekali bermanfaat …
Reply
ospek bagi saya adalah kegiatan yang tidak berguna saat ini, mengapa?ospek adalah ajang balas dendam. senior sering melakukan kekerasan saat ospek kepada juniornya dengan alasan supaya tahan banting sebagai mahasiswa dalam menghadapi kuliahnya padahal dalam pikiran si senior mereka ingin membalas dendam kepada juniornya sepeti yang didapatkannya dulu. di universitas-universitas favorit (swasta sama negeri sama saja ospeknya,masih ada kekerasan) masih ada tuh senior main pukul dan main tendang seenaknya sama juniornya. junior disekap di ruangan lalu dipukuli rame-rame….PARAH…..kalo bisa tuh ospek yang masih banyak kekerasan tuh di expose habis-habisan biar tahu pihak universitas dan masyarakat.klo bisa acara ospek tuh ganti sama acara-acara seminar ato pengarahan kepada mahasiswa baru bagaimana cara mereka beradaptasi dengan perubahan lingkungan dari siswa SMA dan mahasiswa.YANG TERAKHIR ADALAH BAGI SENIOR, PARA SENIOR HENDAKNYA MENGUBAH TRADISI INI KARENA SAMA SAJA MEMPERLAKUKAN JUNIORNYA SEPERTI BINATANG,KALAU SENIORNYA MASIH MELAKUKAN TRADISI KEKERASAN LEBIH BAIK MEREKA HIDUP DI KEBUN BINATANG ATO DI HUTAN AJA NGGAK USAH KULIAH.SARAN SAYA SUATU SAAT ADAKAN LIPUTAN KEGIATAN OSPEK DI KAMPUS SECARA LENGKAP.UNIVERSITAS FAVORIT JUGA HARUS DILIPUT BIAR KETAHUAN BELANGNYA.UNIVERSITAS YANG MASIH ADA SENIORITASNYA ITU SAMA SAJA DENGAN IPDN.apakah kita harus menunggu sampai jatuh korban senioritas lagi?
Reply
Jika sejarah perploncoan dan senioritas dianalisa, akan muncul suatu cerita yang bakal laku keras jika difilmkan.
versi saya:Bermula dari anak-anak kecil yang entah bagaimana mentalnya tidak berkembang dewasa. Mereka mencari aktualisasi diri dengan “menginjak-injak” anak-anak yang lebih kecil dari mereka. Setelah lama, mereka bertambah usia, namun tidak bertambah dewasa. Mereka terus menindas yang lebih kecil dari mereka. Sampai sikap penindasan itu lestari dari generasi ke generasi, menjadi suatu sistem di lingkungan mereka, bahkan menyebar, kemudian dikemas dalam kotak berbungkus kado yang cantik, tersebar sampai ke universitas-universitas dan sekolah-sekolah dibawahnya, dimasukkan ke dalam wadah formal yang disebut OSPEK, MOS dkk. Kemudian oleh orang-orang yang sepaham dengan faham penindasan tersebut, faham tersebut diperhalus dengan argumen-argumen yang “dianggap” logis: perkenalan berkesan, menderita bersama akan lebih kompak, adat, kenangan, membangun karakter berani, dan sebagainya. Hal itu untuk menjaga eksistensinya. Tanggapan : Memang jika orang dijajah, mereka akan berani mati, namun apakah penjajahan perlu dilestarikan sebagai suatu sarana pembangun mental berani dan momen berkesan? ika Anda berpikir logis, seketika akan muncul kata : TIDAK. Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan adaptasi. Membantu perkenalan dengan dunia kampus itu baik, namun sebearnya dengan sendirinya, seseorang akan mampu untuk mengenali lingkungannya melalui adaptasi. J
Reply
Gila..sdh lihat video diperkosa waktu ospek..kayaknya mahasiswa sekarang pada gak punya otak kali ya…isinya cuman tawuran, mabuk, perkosa anak orang..sori bagi anda mahasiswa yg bukan kriminal..mau jadi apa indonesia..tolong diusut pak polisi…
Reply