Melacak Geliat Politik Mahasiswa

Cucun HendrianaOleh Cucun Hendriana

Berbicara soal mahasiswa dan pergulatan politik saat ini sangat menarik. Arus mahasiswa yang bergelut dengan politik kini makin terdengar masif. Berbagai ajang pilkada merupakan lahan bagi mereka beraktivitas dan pengembangan minatnya dalam mengawal alur demokratisasi saat ini yang makin runyam. Tak ayal, banyak mahasiswa yang sangat kental dengan nuansa politik, baik skala mikro maupun makro.

Figur mahasiswa saat ini menjadi sebuah fenomena menarik di tengah gentingnya aroma perpolitikan yang makin tak sedap. Di mana publik banyak yang mengklaim bahwa, politik sangat sarat dengan nuansa hipokrisi, adu domba hingga hujatan-hujatan yang tak beralasan. Publik mensinyalir bahwa mahasiswa merupakan tokoh netral dalam perjalanan politik. Atau dengan kata lain, mahasiswa terbebaskan dari embel-embel partai politik tertentu. Isu itu seakan menambah kepantasan mahasiswa yang sekaligus menjadi tempat manis untuk memposisikan diri dalam arena politik. Meski harus diakui, seakan muka terbalut perban kemunafikan.

Nuansa perpolitikan mahasiswa saat ini sangat kentara dan sedang naik daun. Maraknya pilkada di berbagai belahan daerah Nusantara merupakan momentum menyenangkan. Sebagai contoh, lirik saja dinamika yang melanda mahasiswa di seantero Jakarta yang dalam waktu dekat akan melangsungkan pemilihan gubernur, dengan ramai-ramai mahasiswa aktif sebagai tim sukses calon tertentu. Inilah ajang saling menguntungkan kedua belah pihak. Calon gubernur terbantu dengan adanya mahasiswa, karenanya mahasiswa bisa masuk pada kalangan apapun. Begitupun dengan mahasiswa, biasanya ada imbalannya.

Politik pada dasarnya adalah sesuatu yang bersih, baik dan sebuah keharusan dalam urusan kenegaraan. Namun sangat disayangkan, eksistensinya kini mengalami dekadensi tajam karena sifat yang di munculkan para elitis parpol. Mental-mental korup barangkali menjadi isu yang sudah tak asing lagi tengah bergemuruh di antara mereka. Tak aneh, jika term politik saat ini sedang di rundung duka dan kenestapaan hebat.

Kampus dan Aroma Politik
Adalah sesuatu yang lumrah terjadi di kampus-kampus sebuah pergulatan intens dengan politik. Kini, suhu politik meningkat seiring dengan angin kencang yang di tiupkan pemilihan gubernur DKI. Kampus-kampus pun tak luput menjadi ajang kampanye para calon gubernur tersebut untuk meraih dukungan. Aroma politik di kampus barangkali telah terbiasa kita cium. Persoalannya adalah haruskah kita sebagai mahasiswa ikut terjun secara langsung dalam pergulatan tersebut? Mahasiswa selalu menjadi sorotan publik dalam berbagai aktivitas yang di lakukannya. Pada tahun 1998 barangkali masa kejayaan mahasiswa yang telah berhasil menggulingkan sang otoriter Soeharto dari singgasana kekuasaan. Mahasiswa telah berhasil menggelindingkan bola salju sifat kritisnya menjadi opini publik yang menjelma pada Mei 1998 dengan tumbangnya Soeharto.

Disinilah barangkali pentingnya pentas politik mahasiswa dalam mengawal perjalanan bangsa. Bagaimanapun, kehadiran mahasiswa sangat di butuhkan dalam pergerakan perpolitikan bangsa. Namun, tugasnya tetap sebagai kaum netral yang hanya bertugas mengawasi dan mengawal progresivitas bangsa. Trend yang mengemuka saat ini adalah, mahasiswa cenderung menggandeng kubu tertentu. Implikasinya, idealisme, loyalitas akan tergadaikan pada kebutuhan dan kepentingan. Ini menjadi fenomena dunia mahasiswa masa kini yang patut kita benahi bersama agar citra mahasiswa tetap menjadi figur panutan publik.

Bergelut dalam perpolitikan pada dasarnya adalah hak pribadi yang sangat privasi. Namun, alangkah lebih baiknya jika hal tersebut tetap di barengi dengan menjunjung nilai-nilai mahasiswa sebagai “central figure” yang bermasyarakat. Bermasyarakat dalam artian, tetap menjalin komunikasi pada berbagai pihak walaupun berbeda partai. Karena, berbicara masalah politik sangat erat kaitannya dengan persoalan partai. Dan ini berarti, mahasiswa harus tetap menjalin persaudaraan pada siapapun tanpa harus di batasi partai tertentu.

Geliat politik mahasiswa dewasa ini sangat menakjubkan. Semoga kehadiran mahasiswa di tengah perpolitikan bangsa menjadi nilai positif dalam menambah citra politik saat ini yang makin redup. Bagaimanapun, mahasiswa merupakan kaum terdidik yang diharapkan dapat membawa nuansa perpolitikan ke arah yang lebih baik dan sehat.

Ketua Umum Ikatan Pemuda-Pelajar dan Mahasiswa Kuningan (IPPMK) dan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

One Comment

  1. rusidi
    Posted October 18, 2007 at 5:01 pm | Permalink

    mahasiswa dan gerakan politik..sebuah dramatikal perselingkuhan mahasiswa..yang harusnya lebih diprioritaskan yaitu gerakan moral bung..

    Reply

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>