Konflik dan kekejaman di muka bumi tak pernah surut. Kekerasan buas di dalam negeri, maupun kebringasan dan terorisme yang canggih di aras global terus terjadi. Semua itu menurut Amartya Sen, penulis buku ini, karena merebaknya ilusi tentang sebuah identitas yang tunggal dan tanpa pilihan.
Sen memiliki pengalaman pahit akibat kerusuhan komunal pada usia dini. Ketika berumur 11 tahun, dirinya bersentuhan langsung dengan korban pembunuhan akibat konflik Hindu-Muslim di Bangladesh yang ketika itu masih menjadi bagian dari India.
Waktu itu Sen tinggal di daerah yang kebetulan banyak dihuni oleh orang Hindu. Kader Mia, orang yang terbunuh dan mati dipelukannya itu, adalah seorang Muslim.
Tampaknya, tidak ada identitas lain yang dipandang bermakna dari dirinya di mata orang-orang Hindu yang tega menghabisinya. Dan hari itu, ratusan orang Muslim dan Hindu terlibat baku bunuh.
Kini Sen amat gundah dengan bermunculannya teori-teori besar yang mengelompokkan orang secara paksa ke dalam kotak-kotak identitas tunggal dengan ciri-ciri kebudayaan dan peradaban. Teori semacam ini, menurutnya mengerdilkan manusia karena menganggap bahwa setiap orang hanya memiliki satu kategori keanggotaan (sembari menafikan keterkaitan lainnya).
Pemenang Hadiah Nobel ekonomi 1998 ini mencontohkan, apa yang terjadi dengan India yang seringkali dikurung dalam “peradaban Hindu”. Pengklasifikasian semacam ini jelas memandang sebelah mata keberadaan lebih dari 145 juta warga India Muslim. Deskripsi ini juga mengabaikan interkoneksi ekstensif antar warga India yang tidak berlangsung sama sekali melalui jalur agama, melainkan melalui keterlibatan mereka di bidang politik, sosial, ekonomi, perdagangan, kesenian, musik atau berbagai kegiatan budaya lainnya.
Karena itu dalam hemat Sen, tak seharusnya warga dunia dikelompokkan semata berdasarkan suatu sistem pemilahan yang sifatnya tunggal dan serba mutlak. Pemilahan penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama hanya melahirkan suatu pendekatan “soliteris” terhadap identitas manusia, yaitu pendekatan yang memandang manusia hanya sebagai bagian dari satu kelompok semata (dalam hal ini berdasarkan peradaban atau agamanya).
Dalam buku ini Sen menekankan kritiknya pada dua perspektif reduksionisme yang banyak berkembang. Pertama, tentang afiliasi identitas tunggal. Manusia seolah-olah hanya memiliki identitas tunggal seperti dengan kategorisasai peradaban atau agama. Padahal menurut Sen, banyak identitas lain yang dijalani manusia dalam kehidupannhya yang tak semestinya disepelekan.
Kedua, mengenai pengabaian identitas. Kritik ini diarahkan pada sejumlah teori ekonomi yang menitikberatkan pada asumsi bahwa indivdu hanya memburu kepentingannya sendiri dan mengabaikan motivasi (berdasarkan identitas) lainnya.
Buku yang ditulis seorang filsuf-ekonom ini amat penting dibaca di tengah dunia yang kian ditarik ke dalam kutub benturan peradaban. Dengan kualitas terjemahan yang cukup berhasil, pesan buku ini menjadi lebih mudah dicerna. Dan Rektor Universitas Indonesia yang baru, Prof. Gumilar R Somantri, telah memberi kata pengantar untuk edisi Indoenesia ini.
Malapetaka Identitas
Sen memiliki pengalaman pahit akibat kerusuhan komunal pada usia dini. Ketika berumur 11 tahun, dirinya bersentuhan langsung dengan korban pembunuhan akibat konflik Hindu-Muslim di Bangladesh yang ketika itu masih menjadi bagian dari India.
Waktu itu Sen tinggal di daerah yang kebetulan banyak dihuni oleh orang Hindu. Kader Mia, orang yang terbunuh dan mati dipelukannya itu, adalah seorang Muslim.
Tampaknya, tidak ada identitas lain yang dipandang bermakna dari dirinya di mata orang-orang Hindu yang tega menghabisinya. Dan hari itu, ratusan orang Muslim dan Hindu terlibat baku bunuh.
Kini Sen amat gundah dengan bermunculannya teori-teori besar yang mengelompokkan orang secara paksa ke dalam kotak-kotak identitas tunggal dengan ciri-ciri kebudayaan dan peradaban. Teori semacam ini, menurutnya mengerdilkan manusia karena menganggap bahwa setiap orang hanya memiliki satu kategori keanggotaan (sembari menafikan keterkaitan lainnya).
Pemenang Hadiah Nobel ekonomi 1998 ini mencontohkan, apa yang terjadi dengan India yang seringkali dikurung dalam “peradaban Hindu”. Pengklasifikasian semacam ini jelas memandang sebelah mata keberadaan lebih dari 145 juta warga India Muslim. Deskripsi ini juga mengabaikan interkoneksi ekstensif antar warga India yang tidak berlangsung sama sekali melalui jalur agama, melainkan melalui keterlibatan mereka di bidang politik, sosial, ekonomi, perdagangan, kesenian, musik atau berbagai kegiatan budaya lainnya.
Karena itu dalam hemat Sen, tak seharusnya warga dunia dikelompokkan semata berdasarkan suatu sistem pemilahan yang sifatnya tunggal dan serba mutlak. Pemilahan penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama hanya melahirkan suatu pendekatan “soliteris” terhadap identitas manusia, yaitu pendekatan yang memandang manusia hanya sebagai bagian dari satu kelompok semata (dalam hal ini berdasarkan peradaban atau agamanya).
Dalam buku ini Sen menekankan kritiknya pada dua perspektif reduksionisme yang banyak berkembang. Pertama, tentang afiliasi identitas tunggal. Manusia seolah-olah hanya memiliki identitas tunggal seperti dengan kategorisasai peradaban atau agama. Padahal menurut Sen, banyak identitas lain yang dijalani manusia dalam kehidupannhya yang tak semestinya disepelekan.
Kedua, mengenai pengabaian identitas. Kritik ini diarahkan pada sejumlah teori ekonomi yang menitikberatkan pada asumsi bahwa indivdu hanya memburu kepentingannya sendiri dan mengabaikan motivasi (berdasarkan identitas) lainnya.
Buku yang ditulis seorang filsuf-ekonom ini amat penting dibaca di tengah dunia yang kian ditarik ke dalam kutub benturan peradaban. Dengan kualitas terjemahan yang cukup berhasil, pesan buku ini menjadi lebih mudah dicerna. Dan Rektor Universitas Indonesia yang baru, Prof. Gumilar R Somantri, telah memberi kata pengantar untuk edisi Indoenesia ini.