Merdeka atau Mati?

Oleh HANS HADIDA S

Negeri ini baru saja mem-peringati hari kemerdekaan. Indonesia adalah sebuah bangsa yang memiliki se-jarah yang cukup panjang. Jika kita mengingat kembali lembaran sejarah perjua-ngan kemerdekaan bangsa ini tentu kita akan mera-sakan jiwa kepahlawanan para pejuang yang rela me-ngorbankan apa saja demi terciptanya suatu tujuan mu-lia, Indonesia merdeka.

Sampai saat ini Indonesia terus membangun dirinya sendiri me-nuju masa depan yang lebih baik. Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati hingga pemimpin saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, bergantian memimpin bangsa. Namun selama 62 tahun apakah bangsa ini telah menemukan makna dari kemer-dekaan itu?

Merdeka atau Mati?
Pada masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terkenal suatu sem-boyan ”Merdeka atau Mati!”. Saat itu hanya ada dua pilihan yaitu menjadi bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan atau mati untuk memperjuangkan kemer-dekaan bangsa. Seluruh rakyat bersatu untuk Indonesia yang bebas dari penjajahan.

Memang sekarang Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, namun melihat keporakporan-daan bangsa ini akan sangat sulit jika bangsa ini dinyatakan telah merdeka sepenuhnya dan dalam arti yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu dari awal saya sudah menulis judul tulisan ini dengan tanda tanya bukan tanda seru. Dan hal itu memang patut di-pertanyakan. Merdeka atau mati? Penyematan tanda seru tentu memiliki makna yang berbeda dengan penyematan tanda tanya di akhir semboyan tersebut.

Pertanyaan yang muncul ada-lah apakah bangsa ini memang benar-benar merdeka atau malah menuju kepada kematiannya. Pertanyaan sederhana, namun jawabannya tergantung kesim-pulan akhir dari para pembaca sendiri. Jika bangsa ini merdeka, dimanakah letak kemerdeka-annya. Jika bangsa ini memang belum atau bahkan tidak merdeka sama sekali, apakah ia akan atau sedang menuju kepada kema-tiannya.

Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ya, pernyataan ini memang benar adanya. Indonesia tidak lagi dijajah Belanda, Inggris atau Jepang. Dulu, pada masa kepemimpinan Soekarno keadaan perekonomian hancur lebur. Rakyat menderita. Inflasi menca-pai lebih dari 600%, yang kemudian dapat ditanggulangi oleh Soeharto. Dengan membuka diri pada modal-modal asing dan program PELITA-nya Soeharto membangun Indonesia walau pada akhirnya penyimpangannya tercium juga dan memutuskan lengser pada tahun 1998 atas desakan situasi dan kondisi saat itu.

Begitu pula dengan kemajuan yang dicapai para penggantinya hingga pemerintahan SBY seka-rang yang merupakan hasil pilihan rakyat secara langsung dan pertama di Indonesia. Namun tidak ada satu pun yang dapat menjelaskan makna kemerdekaan dalam arti sebenar-benarnya.

Indonesia sedang menuju kepada kematiannya. Kalau diibaratkan manusia, bangsa ini sudah masuk kategori usia akhir, sudah udzur, tua renta, kadang pikun, kadang ingat, jalan pemikiran dan tingkah lakunya susah ditebak. Kalau analogi itu benar, maka Indonesia memang sudah berada di ujung ajalnya. Tinggal menghitung hari saja. Penyakit yang mendera negeri ini memang sudah kronis. Bencana datang dan berlalu begitu cepat.

Korupsi semakin merajalela bahkan dilakukan secara ber-kelompok dan profesional. Lem-baga hukum dan para penegaknya tidaklah menjadi simbol harapan pembawa kebe-naran lagi. Satu per satu aset-aset negara mulai digerogoti pihak asing. Dan para wakil rakyat bersidang hanya untuk kepen-tingan mereka dan golongannya sendiri.

Harga BBM melangit, kesejah-teraan, pendidikan dan kesehatan merupakan hal yang sulit diraih oleh untuk rakyat. Serta Konflik SARA sudah bukan hal yang tabu lagi. Sebenarnya masih banyak lagi indikasi yang menunjukkan bahwa bangsa ini sedang menuju ke hari kematiannya yang tak cukup ruang untuk menulis-kannya di sini.

Merdeka Sebenar-benarnya
Terlepas dari realita di atas, sekarang adalah waktunya kita menjawab pertanyaan lain. Apakah kita ingin bangsa ini merdeka sebenar-benarnya mer-deka atau hanya menerima kenyataan pahit dan duduk berpangku tangan menunggu hari kematiannya. Sekaranglah saat-nya tiba untuk seluruh rakyat agar bangkit dan membangun kembali bangsa yang sakit ini. Hari ke-merdekaan seharusnya menjadi momentum kebangkitan bangsa. Jangan lagi menyalahkan satu sama lain. Tutuplah lembaran kelam masa lalu, mari kita benahi lagi bangsa ini.

Fondasi iman dan akhlak diperbaiki agar atapnya kelak tangguh menghadapi rintangan dan hambatan. Sudah bukan saatnya lagi kita bertengkar. Saatnya kita bersatu padu untuk menjauhkan bangsa ini dari ambang kehancurannya, dari ajal kematiannya.

Saatnya kebangkitan ini dimulai dari perbaikan karakter bangsa melalui perbaikan karakter pribadi setiap warga negaranya. Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan me-nguraikan bahwa kesuksesan suatu bangsa adalah akumulasi kesuksesan individu-individu. Kesuksesan ini tercipta karena adanya karakter yang positif dan menjiwa dalam setiap diri warga negaranya. Namun di sini keku-rangannya adalah jika karakter itu telah tercipta bagaimana cara mengakumulasikannya sehingga tercipta suatu bangsa yang besar dan berkarakter positif.

Lepas dari pemikiran tersebut, pembentukan karakter masing-masing individu sangat penting untuk dilakukan. Perubahan ini meliputi berbagai macam dimensi, dari akhlak, keagamaan, keilmuan sampai tingkah laku sehari-hari. Jiwa kepahlawanan pun akan be-reinkarnasi dalam diri masing-masing individu dan menjadi sebuah rasa nasionalisme untuk membangun kembali bangsa ini.

Akhirnya, di usia bangsa yang renta ini jangan jadikan segalanya sebagai sebuah harapan hampa dan omong kosong semata. Jadi-kan ia tantangan untuk mencam-buk semangat kita. Menyela-matkan kembali negeri ini dari ujung kehancurannya. Dan di suatu masa kita berharap dapat mengatakan satu kata itu lagi dengan tanda seru dan dalam arti yang sebenar-benarnya. Dirgaha-yu Indonesia!

Mahasiswa Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, Peneliti dan Pengamat Sosial, Staf Divisi Kajian Global Al Hikmah Research Center (ARC) FISIP UI

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>