Mungkinkah UI Masuk Top 100 Dunia?
Usai diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara awal bulan Agustus lalu, Rektor Universitas Indonesia (UI) yang baru Prof. Gumilar Rusliwa Somantri mengungkapkan, UI menargetkan masuk menjadi universitas 100 terbaik dunia dalam lima tahun ke depan.
Tekad tesebut tentu perlu didukung oleh semua pihak. Sebabnya, kini belum ada perguruan tinggi Indonesia yang berada di papan atas dalam ranking universitas sejagat. Bahkan universitas asal Indonesia tak satupun masuk di kelompok Top 200.
Saat ini UI berada di peringkat 250 dari 520 universitas ternama dunia . Peringkat tersebut didasarkan atas empat indikator yaitu kemampuan riset, kemampuan pengajaran, visi internasional dan tingkatan teknologi. Peringkat sekarang ini sudah lebih baik, sebab lima tahun lalu UI masih tercecer di peringkat 420.
Posisi UI jelas masih kalah jauh dari banyak universitas top di Asia. Universitas Beijing, misalnya, bertengger di posisi 14 dunia, sedangkan Universitas Nasional Singapura (NUS) dan Universitas Tokyo, sama-sama berada di posisi 19 dunia. UI juga berada di luar kelompok 50 Besar universitas yang ada di Asia dan Australia.
Menurut Prof. Gumilar, untuk mengejar target tersebut, UI akan menekankan pada upaya memperkuat governance, transparansi sektor keuangan dan memperbaiki sumber daya manusia. Selain itu, institusinya akan merekrut tenaga-tenaga baru yang berkualitas dan meningkatkan yang sudah ada serta mencoba mengembangkan kesejahteraan staf pengajar dan karyawan sehingga profesionalisme mereka meningkat.
Selain itu, sebagaimana dikutip kantor berita Antara, UI akan meningkatkan program riset dan pengajaran yang dilakukan tanpa sekat-sekat fakultas atau depar-temen sehingga ada fleksibilitas untuk peningkatan kualitas ma-hasiswa. Tak kurang , pada pekan pertama bulan Agustus (6/8) Presiden SBY menghadiri peres-mian kampus UI sebagai science park, yang diharapkan akan menjadikan kampus sebagai elemen penting untuk melahirkan pemikiran dan membantu peme-rintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan di berbagai bidang.
Banyak universitas di dunia kini bermimpi menggapai peringkat lebih baik. Mungkinkah UI sebagai salah satu universitas kebanggaan negeri ini bisa mencapainya dalam waktu dekat?
Peta Persaingan
Di berbagai negara kini kian disadari pentingnya makna pe-ringkat universitas. Meski demi-kian, dalam peringkat universitas yang dikeluarkan The Times Higher (2006) baru 13 universitas Asia yang berhasil menembus barisan 100 terbaik, yaitu dari Jepang (3), Hongkong(3),China(2), Singa-pura (2), India (2), dan Korea Selatan (1).
Peringkat teratas masih dido-minasi universitas-universitas asal Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Dari tahun ke tahun ranking universitas hampir tak ada pergeseran yang berarti. Kalau pun ada hanya beberapa saja yang melakukan lompatan seperti Vanderbilt University (AS) dari posisi 114 tahun 2005 men-jadi 53 tahun 2006. Universitas lain yang melakukan lompatan adalah Otago University dari 186 menjadi 79 dan Pittsburg Uni-versity dari 193 menjadi 88.
Selain amat sulit menerobos ke peringkat 100 besar, tidak kalah susahnya adalah mempertahan-kan posisi yang sudah diraih. Negara tetangga Malaysia misal-nya, boleh berbangga karena Universiti Malaya tiga tahun lalu berada di urutan 89 dunia. Tetapi peringkatnya melorot menjadi 169 tahun berikutnya, dan kemu-dian turun lagi ke peringkat 192 dunia tahun lalu.
Kunci Keberhasilan
Kompetisi antar universitas versi The Times Higher didasarkan pada penilaian kualitatif (peer review) dan kuantitatif (hasil riset dan rasio dosen-mahasiswa). Secara kualitatif universitas yang mendapat poin tinggi yaitu yang dinilai memiliki tradisi akademis – sains, kedokteran, teknologi, dan ilmu sosial – yang amat diakui secara internasional. Sedangkan secara kuantitatif nilai tinggi akan diperoleh dengan semakin ren-dahnya rasio dosen-mahasiswa dan dengan kian banyaknya kutipan atas publikasi ilmiah yang dihasilkan.
Keberhasilan meraih peringkat universitas teratas sekurangnya dipengaruhi sejumlah faktor. Menurut The Times, salah satunya adalah faktor uang. Antara tahun 1990 dan 2004, universitas negeri di AS menaikkan uang kuliah untuk program sarjana dari 10.900 menjadi 15.100 dolar AS. Tetapi pada periode yang sama, universitas yang terutama didanai swasta (non profit) menaikkannya dari 21.200 menjadi 29.500 dolar AS.
China selama satu dekade ini tampak agresif mengalokasikan dana sebesar 125 juta dolar AS bagi 10 universitas terbaik dan 225 juta dolar AS per tahun khusus untuk dua universitas yang masuk 20 besar dunia yakni Beijing dan Tsinghua sebagai percontohan. China membangun perguruan tinggi dan lembaga riset dengan target utama melahirkan 100 universitas terbaik dunia di abad ke-21 dan 20 persen penduduk usia 18-22 tahun harus lulus universitas (Alhumami 2007).
Universitas yang meraih pe-ringkat tinggi tak selalu univer-sitas besar yang memiliki banyak pengajar dan mahasiswa. Ecole Normale Superieure (ENS) Peran-cis hanya memiliki 1300 maha–siswa dengan 224 staf pengajar. Tetapi universitas ini telah me-lahirkan sejumlah alumni peraih nobel, ilmuwan, filsuf, sastrawan, politisi, dan ilmuwan sosial seperti Louis Pasteur, Jean Paul Sartre, Michael Foucault, Jacques Der-rida, Leon Blum, dan Georges Pompidau.
Jalan Panjang
Tak gampang bagi UI menjadi yang terhebat di antara 100 universitas di dunia. Masalah yang mesti diatasi di antaranya jumlah mahasiswa yang dikelola amat banyak dengan staf pengajar yang jauh lebih sedikit. Selain menge-lola program sarjana reguler dan pascasarjana, UI juga dibebani program diploma dan ekstensi.
Hingga kini keluhan terhadap dosen yang tak aktif di kampus juga seringkali masih terdengar. Padahal The Times Higher mene-kankan bahwa intensitas perku-liahan (teaching) dan penelitian merupakan kegiatan utama uni-versitas yang menyumbanng 40 persen pada skor total penentu peringkat.
Di banyak negara, kemitraan dengan swasta merupakan sum-ber pendanaan universitas yang amat besar. Masalahnya, Indo-nesia tak memiliki banyak peru-sahaan nasional kelas dunia. Yang ada hanyalah perusahaan-peru-sahaan asing yang risetnya justru banyak dikembangkan di negara asalnya.
Contohnya, meski Indonesia termasuk negara peng-hasil minyak sejak tahun 1970-an tetapi teknologi perminyakan tak banyak berkembang di sini.
Persoalan lainnya, ideologi neoliberal kini menjadi arus uta-ma dalam pengelolaan pendidikan termasuk pendidikan tinggi di Indonesia. Ketimbang mengu-curkan lebih banyak dana untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi yang terjadi justru sebalik-nya. Berbeda dengan banyak ne-gara yang universitas bertengger di posisi teratas, pemerintah Indonesia justru tak serius men-danai pendidikan.
Rancangan Anggaran Pene-rimaan dan Belanja Negara (RAPBN) yang disampaikan pre-siden tanggal 16 Agustus 2007 justru menunjukkan anggaran pendidikan yang semakin rendah.
Mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef (1978-1983) mengkritik RUU Badan Hukum Pendidikan (Kompas, 29 AGustus) yang menurutnya dilandasi “se-mangat dagang”. Di manapun katanya, tugas universitas itu pendidikan bukan riset. Karena itu, hasrat pemerintah melepas tanggung jawab tidak kon-stitusional dan ahistoris .
Meski biaya kuliah di UI relatif lebih rendah dibanding banyak universitas di dunia, tetapi pem-bebanan biaya masuk (admission fee) antara 10 – 25 juta Rupiah per mahasiswa boleh jadi menjadi tak terjangkau oleh banyak calon mahasiswa yang berprestasi dari keluarga miskin. Di AS, masalah akses ini misalnya menjadi perha-tian Universitas Yale (peringkat 5) dengan membebaskan biaya kuliah mahasiswa yang kombinasi pendapatan keluarganya di bawah 45.000 dolar AS. Angka tersebut di AS merupakan angka tengah (median) penghasilan masya-rakat.
Tak cukup melompat, UI perlu berlari sekencang-kencangnya jika mimpi menjadi 100 terbaik dunia ingin menjadi kenyataan.
Artikel lain yang mungkin relevan:
- Ini Dia Peringkat Universitas Terbaik di Indonesia 2008
- 10 Kampus Terbaik Versi Tempo
- Peringkat Universitas dan Artis Ibukota
- Sains di Dunia Islam
- Top Fakultas Kedokteran Indonesia
29 Comments
ENVIRO on September 20th, 2007
mm..menurut webometrics.com..univ2 di indo hanya mampu masuk peringkat seribu sekian di dunia..mungkin beda indikator kali ya..
ayo indonesia..kita maju terus!!!
[Reply]
Rian on September 25th, 2007
Universitas Indonesia membawa nama Indonesia, jarang2 universitas yg memakai nama negara..mungkin itu merupakan hal yg saling berkaitan, agar UI maju, maka Indonesia juga harus maju dulu pula
[Reply]
Tri SISWANDI on September 28th, 2007
wah saya sangat setuju dan mendukung target itu.kita memang harus bener2 komitmen ketika keingina itu sudah terpatri.UI akan maju jika semua civitas peduli terhadap pendidikannya.
[Reply]
Chem'Eng UI 06 on October 1st, 2007
Gua Yakin mungkin !!!!!!!!!!!!! Kalo anak UI kaya anak Teknik Kimia UI, Bahkan mungkin aja kita ngalahin MIT,NTU,CAMBRIDGE………….. JADI UNIVERSITAS NO 1 DUNIA
[Reply]
yoga on October 11th, 2007
gw yakin UI pasti bisa menjadi 100 terbaik dunia,,,,,tp jngn lupa,,,sebenarnya tujuan pendidikan itu bukan untuk saling bersaing,,,tp untuk menghasilkan manusia yg berkualitas…..jd gw harap UI tetap berkomitmen untuk menghasilkan manusia yang berkualitas….
[Reply]
ft euy on October 27th, 2007
wah gw sh yakin aja Ui bakal masuk top 100, but… untuk mencapai itu harus ada penyamaan visi yang kuat di seluruh elemen UI ya mahasiswanya,doesnnya, karyawannya , dan semua pihak yang berkepentingan di UI.. tapi ingat ya itu semua juga ujung2nya ya duit so semoga pemerintah tidak melupakan tugasnya memberi susbsidi agar UI bisa efektif dalam menjalankan fungsinya sabagai institusi pendidikan yang menelurkan sdm yang unggul bukan malah menjadi lembaga pencari uang,.. he’e ..
[Reply]
inal on October 28th, 2007
semoga aja, kita semua turut mendoakan. tapi semuanya jug tergantung pada kesadaran masing-masing warga ui
[Reply]
alfani on December 12th, 2007
klo mnurut gue, kalopun bisa masuk 100 besar dunia, cuma bakalan memperbesar kesenjangan sosial,,, yg pinter makin pinter yg bego makin bego hehehehe
[Reply]
Adikarsa on December 20th, 2007
Kalo menurut gw yang paling penting adalah PENDIDIKAN MILIK SELURUH RAKYAT INDONESIA, tanpa membedakan status ekonomi, jadi semua calon mahasiswa yang lulus SPMB UI harus bisa Kuliah di UI dan memiliki hak yang sama… Anggaran pemerintah untuk pendidikan harus direalisasikan 20% dari APBN….
…Kobarkan semangat kita demi Ampera(Amanat Penderitaan Rakyat)…
[Reply]
Iwan on December 21st, 2007
Wah, UI sudah KALAH dengan UGM (No 1 di Indonesia), ITB (No 2 di Indonesia) dan UI (No 3 di Indonesia). Coba cek data The Times Higher edisi terakhir 2007 ini. Berdasarkan web, yang masuk 100 besar Asia hanya UGM. UI harus realistik, bahwa kualitas PT dinilai dari pengajar yang jadi menteri sudah lewat. Cek, dari segi website yg paling komprehensif dari tiga besar PT di Indonesia (UI, ITB dan UTM), sekarang UGM yang paling bagus dan komunikatif. Mantan pejabat banyak yg ambil doktor di UGM. Pls, be realistic friend…
[Reply]
RnD on December 21st, 2007
emang qt harus realistic..tp tetep hanya kt yg bisa mengangkat nama besar ui,kembalikan kejayaanny..jgn
ngaku kalah sama UGM & ITB!!
[Reply]
Adikarsa on December 24th, 2007
Webometrics Ranking : UGM peringkat 95 Asia
The ranking is based on a combined indicator that takes into account both the volume of the Web contents and the visibility and impact of this web publications according to the number of external inlinks (sitations) they received. The ranking is updated every January and July, providing Web indicators for universities and research centres worldwide.
liat kan comment temen kita itu…
emang UGM lebih bagus tapi cuma desain web doang…hehehe…jangan dilebih-lebihkan lah….
[Reply]
Adikarsa on December 24th, 2007
Mengkutip dari 10 Kampus terbaik versi tempo Faktanya:
Perguruan tinggi Indonesia belum mampu berbicara banyak di tingkat internasional. Selama ini baru empat perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 universitas terbaik di dunia. Pada November 2006, The Times menempatkan Universitas Indonesia di urutan 250, ITB (258), UGM (270), dan Universitas Diponegoro (495).
[Reply]
agus on January 5th, 2008
Bagaimana kalo diadu, Universitas mana yang paling banyak menghasilkan koruptor..?? Pasti jawabannya…: UI ..! Liat aja contoh kecilnya; Akbar Tanjung dan Wijanarko Puspoyo (Korupsi BULOG), Mulyana W. Kusuma dan Nazaruddin Syamsuddin (KPU). Yusril Ihza M. (Pengadaan alat sidik jari Setneg). Yang lainnya masih banyak yg belum disebut. Apa gak malu tuh alumni UI..?. Kecuali kalo emang udah putus urat syaraf malu-nya. Pasti malah bangga jadi produsen koruptor terbesar..
[Reply]
Noval on January 5th, 2008
Buat Adikarsa: “Bro, mungkin yang dijadikam dasar, jangan peringkat Universitas di Tahun 2006. Pakai versi Webomatric dan Time di Tahun 2007 aja, kan lebih update. Atau ambil data dari Dirjen Dikti aja, mana sich universitas di Indonesia yang penajarnya paling banyak PhD-nya atau yang jurusannya paling banyak mempunyai grade “A”.. Masak,data tahun 2006 masih elu pake…Malu-maluin aja”
[Reply]
Jevry on January 5th, 2008
masih panjang sekali perjalanan UI untuk menjadi salah satu dari 100 universitas terbaik sejagat…
tak cukup hanya peningkatan SDMnya saja namun juga harus ditunjang dengan peningkatan fasilitas dan prasarana universitas yang memadai!!….
kalau mengenai peringkat… jujur aja, jangankan masuk 100 terbaik sejagat.. masuk 50 besar di ASIA aja nggak sanggup… jadi nggak usah muluk2 dulu deh…
perbaiki dan tingkatkan dulu kualitas perpustakaan dan komputer di UI baru boleh banyak berbicara…
[Reply]
double "D" on January 26th, 2008
Kita bingung, ko informasinya beda-beda si?
mana yang bener?
Katanya UGM (No 1 di Indonesia), ITB (No 2 di Indonesia) dan UI (No 3 di Indonesia) berdasar data The Times Higher edisi terakhir 2007 ini. n yang masuk 100 besar Asia hanya UGM…
Diartikelnya ga ada yang masuk 200 besar dunia…
gimana??
[Reply]
Adikarsa on March 25th, 2008
untuk saudara agus kalau korupsi itu pasti bukan didikan kampus UI tapi itu balik lagi ke diri masing-masing karena setiap orang punya kebutuhan pribadi yang mungkin tidak bisa dipenuhi dengan upah bulanannya, karena manusia tidak pernah puas, kita ngga pernah tau siapa aja yang korupsi atau mungkin lulusan dari kampus anda juga ikut-ikutan korupsi, tapi “UNTUNGNYA” tidak terpublish.
[Reply]
dian on April 12th, 2008
Ya diaman-maan gak ada Universitas yg ngajarin korupsi.. Tapi kan dari hasilnya udah keliatan… Nazarudin Syamsuddin, Mulyana W. Kusumah, Widjanarko Puspoyo itu semuanya alumni UI… Mana ada alumni ITB/UGM yg jadi koruptor…? kalo kamu bilang ITB/UGM hanya juara di web-nya doang, yaa berarti emang kelihatan kalo kamu emang wawasannya kurang.Sorry aja, mungkin sama kurangnya dengan kawan-kawanmu satu kampus. Karena menurut versi siapapun (Webomatrics, Time,Dikti), ITB/UGM jelas lebih baik dr UI. Ini sdh bukan jaman ORBA lagi Bung, dimana Para Mafia Barkeley yang berjaket kuning menjilat Soeharto..!!
[Reply]
indra on April 20th, 2008
Untuk Adikarsa: kalo elo ngutip peringkat universitas tuch pake data yg ter-update. Jangan data tahun 2006 msh dipake, skrg udah thn 2008. Masak, data jadul kayak gitu msh dipake.. Bukannya gw bangga, tp malah malu. Elo malu2in aja…!!
[Reply]
edho on April 26th, 2008
Emang kenapa sih dengan orang-orang lulusan UI, ITB, UGM, bahkan Universitas terbuka sekalipun? Toh orang kalo udah menjadi orang besar ga akan bilang bahwa kesuksesannya krn universitasnya…yang utama dia bilang pasti krn Tuhan, yang kedua orang tua n orang-orang terdekatnya, baru kemudian dia bilang krn kerja kerasnya sendiri. Mana ada dia bilang krn universitasnya! Lo aja pada yang ngehubung-hubungin orang besar (yang baik atau yang buruk) berasal dari universitas mana..Mau baik atau buruk orang tetaplah individu, bukan universitas. Apalagi kalo dia udah ga belajar di universitas itu lagi. Masalah kaya gini diributin..Mending lo ributin kenapa lo dianggap “cere” sama mahasiswa dari negara lain..
[Reply]
yuki on May 14th, 2008
huhu, setuju banget sama edho!
ini baru orang indonesia patriot!
cinta bangsa.
seneng amat nyela ’sodara’ sendiri. UI bagus, UGM bagus, ITB bagus, Universitas lain juga bagus!
yang penting individunya.
99%bakat, 1%usaha, hahaha. asal sekolah ma kaga ngaruh.haha
[Reply]
kristian on July 18th, 2008
ya,,,ga usah jauh banget pemikiran bt ui msk urutan 100 dunia..
terbaik di asia dulu di benerin tuh..,,malah ui uda kalah ma univ.swasta di jkrt,,ex: UPH
OCCCCCCCCC
[Reply]
met on August 5th, 2008
woey,, bisanya komentar doank! LO SEMUA GAK MALU APA??? ngata-ngatain universitas bangsa sendiri! sama aja tau ga sama ngatain emak lo sendiri! emank dengan ngata2in kaya gitu universitas DI INDONESIA bakal ada yang nambah maju???
trus yang udah dapet RANKING juga jagan sok-sokan dulu! tau diri donk segitu tu gak ada apa-apanya di mata dunia. kaya ikan teri! lo puas dengan rangking segitu??? terlalu cepet lo puas! kapan mau nyampe puncak kalo baru naek dikit udah seneng! gara-gara orang-orang kaya lo itu Indonesia kaga bisa maju.
[Reply]
radhitya on October 17th, 2008
wahh….
gua sangat tidak setuju dengan kata2 yang loe bilang tentang UI pencipta koruptor…! Mentang2 2-3 orang mencuri lu bisa seenaknya memvonis satu negara adalah pencuri, sempit sekali logikamu teman…
cobalah untuk berfikir lebih jernih, mereka yang telah bergelut dibidang politik akan merasakan bagaimana kejamnya sebuah permainan politik. Kebanyakan koruptor timbul dari jeleknya dunia politik Indonesia.
[Reply]
Mungkinkah UI Masuk Top 100 Dunia? « LCC Rawamangun & Pulogadung on December 11th, 2008
[...] Mungkinkah UI Masuk Top 100 Dunia? Diarsipkan di bawah: Info PTN — bimbellccrawamangun @ 9:28 am Mungkinkah UI Masuk Top 100 Dunia? [...]
amin on December 17th, 2008
Emang UI tuh penghasil koruptor kelas Ayam-ayam.
mendingan di kampus UI dikasih mata kuliah
“KORUPTOR ADALAH PERBUATAN TERCELA”
Semua Kampus ada saja jadi koruptor.
tapi UI ini kayaknya tempat penetas Koruptor negara Indonesia.
Gak swasta gak di pemeritah gak dilingkungan bisnis.
Jaringan UI lebih cenderung jaringan melindungi perbuatan Korup.
[Reply]

timo ardante on September 17th, 2007
semua tergantung, kampus ui, mahasiswa, dosen, rektor, bahkan tukang parkir di kampus ui, jika semua sudah satu visi dan misi,tidak mungkin tidak ada yg tidak mungkin,jadi it’ all up 2 u guys,mau atau tidak !!! do your best let God do de rest
[Reply]