Kenapa “Bercerai” dari Perhimpunan SPMB?

Ada bau tak sedap dari dunia pendidikan tinggi kita. Bau itu mulai tercium ketika puluhan PTN berniat “pisah ranjang” dalam proses seleksi calon mahasiswa baru tahun ini. Koran Kompas (11/3), menyebutkan, ada 41 PTN yang akan menyeleksi calon masisinis mahasiswanya di luar jalur SPMB.

Dari pemberitaan media massa, diketahui, “talak satu” muncul tak jauh dari urusan duit. Ternyata, banyak yang tidak puas dengan pengelolaan harta gono-gini yang dikumpulkan dari mahar biaya pendaftaran mahasiswa baru selama ini.

Dalam sebuah rapat keluarga para rektor di Surabaya, mereka menyatakan, tidak ada yang salah dengan SPMB, namun pengelolaan keuangannya tidak sesuai aturan dan bisa membawa konsekuensi hukum.

Gara-gara duit, memang banyak pihak tersangkut kasus hukum. Termasuk juga dari kalangan persilatan perguruan tinggi. Akademisi dipenjara, semakin sering terdengar di era reformasi. Mereka melakukan abuse of power  ketika menduduki jabatan publik.

Tentu lebih bahaya lagi, kalau penyimpangan itu sudah terjadi sedari institusi pendidikannya. Dunia pendidikan tidak bisa lagi diharapkan menjadi benteng moral jika “bentengnya” sendiri sudah runtuh.

Anehnya, di negeri ini, sejumlah wakil intelektual kampus yang ada dibui masih berlaku seperti selebriti. Opini mereka bertebaran di media massa. Seolah-olah mereka korban kezaliman, padahal pengadilan memutuskan mereka telah menggasak uang negara.

Dipenjara, tidak berarti bersalah. Banyak yang dikerangkeng akibat sikap politik yang berbeda dengan pemerintah. Tapi, bukan karena korupsi yang rakus.

Bencana di negeri ini adalah ketika pembalap lembaga pendidikan berlomba-lomba menarik pungutan dari masyarakat. Lihat saja, uang pendaftaran ini ditarik sejak TK hingga PT. Tentu, cara ini bagi pihak pengelola pendidikan “enak dan perlu”.

Lebih celaka lagi, jika semangat mengumpulkan “mas kawin” ini sudah merasuki semua institusi pendidikan tinggi. Lihat saja, karena tak mampu membawa “uang jemputan” yang besar, banyak pelajar pintar di negeri ini tersisih dari bangku PTN.

Dalam urusan duit, semua pihak memang harus mawas diri. Doktrin Adam Smith bahwa jika semua orang mengejar kepentingannya masing-masing akan tercipta kemakmuran, harus segera dikubur.

Kakek-Nenek Bapak dan Ibu dosen pasti ingat pepatah: guru kencing berdiri, mahasiswa ngeblog kencing berlari. Berilah contoh yang baik dengan tidak bercerai. Duit memang penting, tetapi lebih penting lagi menjaga kebersamaan demi majunya pendidikan di negeri ini.

This entry was posted in Fokus. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>