Harga-harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng naik tajam. Di Banyumas, Jawa Tengah, 30 mahasiswa bersama puluhan petani berdemo di depan gedung Radio Republik Indonesia dan DPRD setempat. Tuntutannya, mereka meminta penyiar pemerintah menurunkan harga kebutuhan hidup untuk mengurangi penderitaan rakyat (Kompas, 18/3).
Kawan, jujur saja, melambungnya harga kebutuhan pokok sepertinya belum mendapat perhatian selayaknya dari mahasiswa. Padahal dalam sejarahnya, konon mahasiswa yang selalu di depan meminta pemerintah memperbaiki keadaan. Hayo, kenapa coba?
Pertama, ini seolah membenarkan tesisnya aktivis sosial Naomi Klein. Penulis buku “The Shock Doctrine” ini pernah menyatakan bahwa generasi muda sekarang sudah ter”Bonoisasi”. Mereka mengungkapkan keprihatinan terhadap realitas sosial enggak lagi di jalanan, tapi berganti di lokasi konser musik seperti dikampanyekan pelari penyanyi Bono.
Kita boleh saja menolak tesis semacam itu. Mahasiswa bukannya enggak peduli, namun bentuk keprihatinannya itu memang sudah banyak yang berpindah media. Sekarang orasinya lebih banyak di blog dan tempat teriak-teriaknya kumpulnya adalah warnet atau kawasan hotspot gratis.
Survei Nielsen Media Research terbaru menyebutkan 28 persen pengguna internet di Indonesia ngeblog tiap hari, 23 persen membaca blog dalam dua-tiga hari, dan 20 persen sekali sepekan. Di Indonesia, pengguna internet adalah masyarakat kota yang kebanyakannya adalah mahasiswa, laki-laki dan lebih makmur.
Jadi, benarkah mahasiswa sekarang sibuk ngeblog? Cuma kita yang tahu
2 Comments
menurunkan harga berarti menaikkan subsidi; barangkali akan lebih baik menaikkan subsidi pendidikan, baik prasarana maupun dukungan untuk siswa yg kurang mampu dan guru2nya, sambil memastikan bahwa tidak ada orang yg meninggal karena tidak bisa memperoleh makanan, atau tidak bisa mendapatkan perawatan kesehatan dasar karena tidak mampu membayar dokter dan membeli obat.
Reply
menurunkan harga tidak harus memberi politik subsidi pada semua bahan pokok yg dibutuhkan masyarakat. kita perlu mengamati politik subsidi jelang PEMILU 2009, jangan sampai kasus politik subsidi ala Mr. Nurdin (ex Ketum PSSI + ex politikus subsidi minyak goreng)terulang kembali.
btw, masalah “modalitas” pendidikan, bagi kami adalah mulai dengan adanya SDM pendidik dan dana swadaya masyarakat saja lah. karena pemerintah terlalu pintar beralasan kepada kami.
tanx ^_^
ridza
mahasiswa & pendidik
(so, klo mahasiswa sibuk ngeblog, gak juga dah! hi3x)
Reply