Ketika Ngampus Tak Seindah Bayangan

Menjelang Unas begini, biasanya benak siswa-siswi SMA sudah pingin lepas saja dari pakaian berwarna putih abu-abu. Warna yang menunjukkan keseragaman akan aturan berpakaian, yang itu artinya masih belum bisa menentukan ‘siapa gue’ sebenarnya. Beda dengan dunia setelah SMA yang itu artinya merdeka dan bebas lepas. Bebas dari aturan warna dan bentuk pakaian, bebas dari keluar masuk BP karena telat, bebas dihukum karena gak ngerjakan PR, bebas razia kalau pingin kongkow-kongkow di kantin, de el el.

            Saya masih ingat kata guru Bahasa Jerman waktu di SMA dulu ketika ada salah satu teman yang sangat antusias lepas dari bangku SMA.

“O…saya tahu, supaya kamu bisa bebas memakai lipstick dan baju seksi kan?”

Jelas aja teman saya langsung cemberut mendengar kata-kata straight to the point sang guru itu. Terlepas dari apa motivasi teman saya itu, saya pribadi antusias juga menanti saat-saat menjadi mahasiswa. Wuihhh…maha siswa, bukan siswa biasa tapi ada kata maha.

            Pertama kali ngampus, seneng banget rasanya. Masih ada sisa-sisa perpeloncoan, meskipun sudah tidak segarang tahun-tahun sebelumnya. Bawa mie instant, bawang putih, surat kabar bekas, yang itu semua ternyata untuk dijual sebagai dana kegiatan. Saya lewati saja bagian ini, untuk ke babak selanjutnya.

            Saya membayangkan intelektual saya akan berkembang maksimal di kampus. Diskusi-diskusi cerdas, rapat-rapat adu argument yang sehat, organisasi-organisasi yang akan menempa saya menjadi manusia yang siap untuk terjun ke dunia nyata. Harapan-harapan indah tentang sebuah dunia bernama kampus. Tapi benarkah kenyataan seindah harapan?

            Di awal-awal kuliah, saya tak pernah mau membolos sehari pun. Pernah satu ketika, anak-anak Senat mahasiswa (sekarang berubah jadi BEM) meminta saya pulang ke rumah (saya ngekost waktu itu meskipun terletak di kota yang sama) karena saya berniat menghibahkan beberapa buku bacaan saya ke desa tertentu di luar kota. Biarpun para senior meminta saya baik dengan lembut hingga tegas, saya bersikukuh tak akan bolos satu mata kuliah pun. Akhirnya mereka mengalah dan mengambil sendiri buku-buku itu di rumah. Saya masih ingat kata-kata salah satu dari kakak-kakak senior itu, “Mahasiswa baru memang suka begitu, coba nanti setelah beberapa semester, pasti pada kabur semua.”

            Detil tentang suasana di dalam kelas, akan saya paparkan di bagian lain tulisan saya, insya Allah.

            Suasana di luar kelas dan lingkungan kampus inilah yang akan saya bahas kali ini. Hari demi hari dan minggu berganti bulan, saya merasa ada yang kurang dari harapan saya tentang dunia kampus. Saya tak menemui diskusi-diskusi cerdas yang saya bayangkan ketika SMA dulu. Teman-teman saya yang satu kelasnya hanya sejumlah kurang dari 20 orang (khas kelas bahasa) berkelompok sesuai minat tema masing-masing. Ada dua kelompok besar yang ada saat itu yaitu kelompok yang ngobrol soal cowok-cowok cakep dan kelompok yang ngobrol soal film kartun.

            Untuk sementara saya memilih kelompok kedua. Tapi lama-lama, saya jadi merasa kosong. Masa sih kehidupan di kampus Cuma begini saja? Saya butuh diskusi-diskusi cerdas. Tapi dimana?

            Saya masuk jurusan bahasa Inggris dengan modal nekat. Nilai saya kayak obat sariawan alias vitamin C berderet. Aslinya memang jurusan ini bukan minat awal saya. Berkaitan dengan pilih-memilih jurusan, lain kali akan saya ceritakan juga, insya Allah.

            Akhirnya saya pun ‘terperosok’ dengan sukses di salah satu sudut kota bernama British Council. Di sinilah saya bertemu apa-apa yang saya rindukan di dunia kampus. Diskusi cerdas dan mencerdaskan saya jumpai. Saya pun sempat larut di dalamnya dengan para aktivis dari berbagai kampus lainnya. Satu hal yang sempat mengganggu saya adalah identitas kampus saya diragukan. Teman-teman baru saya selalu ‘menuduh’ saya dari sebuah kampus negeri prestisius di ujung timur Surabaya. Padahal jelas-jelas saya sebutkan kalo saya dari sebuah kampus negeri yang mencetak tenaga guru di sana. Hhh…pandangan-pandangan ak percaya itu, apakah sebuah kebanggaan ataukah ‘pelecehan’? Apakah yang bisa cerdas hanya mereka yang dari kampus negeri ternama itu? Tidak bisakah kampus negeri yang mencetak tenaga guru mempunyai mahasiswa/i yang seperti itu juga?

            Pengalaman ini sempat saya ‘share’ dengan seorang teman dari kampus negeri bergengsi di Jakarta. Ia sempat berpindah kampus hingga tiga kali sekedar mencari suasana kampus yang benar-benar menggambarkan kampus. Pengalaman ini juga mengingatkan seorang teman yang memutuskan keluar dari salah satu kampus negeri di Yogyakarta karena ia kecewa tidak menemukan apa yang dicarinya. Tidak begitu berbeda dengan pengalaman yang saya ceritakan di atas. Yang membedakan kami hanya cara penyikapannya saja. Ketika kawan saya yang berduit memilih berkelana hingga ke tiga kampus untuk menemukan yang benar-benar kampus menurut definisinya, dan kawan saya yang lain memutuskan keluar daripada terseret arus yang menurutnya ‘memuakkan’, saya memilih berkompromi.

            Saya tidak cukup berduit untuk pindah kampus, dan saya tidak pernah bercita-cita lari dari kampus. Sekali saya masuk dan memutuskan menekuni sesuatu (apalagi dunia kampus yang menurut saya amazing terlepas segala kekurangan di dalamnya), pantang bagi saya keluar tanpa membawa hasil. Hasil? Saya merasa akan menjadi katak dalam tempurung bila saya hanya berkutat di kampus sederhana itu. British Council (yang sekarang sudah berubah nama) adalah salah satu dari banyak tempat yang membuat saya menemukan dunia kampus yang pernah saya rindukan. Paling tidak, di kampus sederhana itulah saya lulus dengan pas-pasan. Di kampus itu pula saya menemukan banyak hal sederhana yang merupakan batu bata pembentuk diri saya saat ini. Dan di kampus yang banyak kekurangannya itulah saya menemukan utuhnya diri hingga saya mampu mandiri.

            Bila itu sikap saya, bagaimana dengan kamu?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

One Comment

  1. rani
    Posted September 16, 2009 at 3:22 pm | Permalink

    wah..
    saya masih maba nh kak.
    malah kdg2 saya pengen balik ke SMA aja.
    belajar, seneng2, dan semacamnya.
    di kampus masih adaptasi.

    baru ngerasain, yg namanya SMA adl masa2 yg plg indah.

    tapi te2p bersyukur, coz cita2 saya waktu kelas 1 sma, untuk kuliah di jur dan univ yg saya pengen, dikabulkan TUhan.

    Reply

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>